
Stroke akut merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis segera. Ketika aliran darah ke otak terhenti, sel saraf dapat kekurangan oksigen dan nutrisi, lalu mengalami kerusakan. Karena itu, waktu menjadi faktor penting: periode emas penanganan berada dalam rentang kurang dari 4,5 jam sejak gejala awal muncul.
Penanganan tidak bergantung pada satu dokter saja. Dokter spesialis saraf, ahli bedah saraf, radiolog, dan spesialis rehabilitasi medik dapat bekerja secara terkoordinasi dalam tim multidisiplin. Untuk mengenali layanan terkait, Anda dapat mencari informasi melalui Center of Excellence RS Bunda. Berikut empat peran tim dokter multi disiplin dalam menangani stroke akut.
1. Diagnosis dan Evaluasi Darurat pada Stroke Akut
Di ruang gawat darurat, dokter spesialis saraf dan tim triase melakukan penilaian awal terhadap kondisi pasien. Salah satu alat yang dapat digunakan adalah NIHSS, yaitu skala untuk mengukur tingkat gangguan motorik, sensorik, dan kemampuan berbicara. Bersamaan dengan pemeriksaan itu, dokter radiologi biasa menyiapkan pemindaian CT Scan tanpa kontras atau MRI otak.
Melakukan pemeriksaan dapat membantu tim membedakan stroke iskemik, yang terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah, dari stroke hemoragik, yang disebabkan perdarahan. Hasil pencitraan menjadi dasar untuk menentukan langkah medis berikutnya. Pembedaan ini penting karena tindakan yang sesuai untuk satu jenis stroke belum tentu aman untuk jenis lainnya. Oleh karena itu, koordinasi pemeriksaan dapat membantu mengurangi risiko pemberian terapi yang keliru.
2. Tindakan Intervensi Medis Cepat
Jika hasil pemeriksaan memastikan stroke iskemik, dokter spesialis saraf dapat memberikan obat trombolisis melalui infus sesuai protokol dan perhitungan klinis. Obat ini berfungsi meluruhkan gumpalan darah. Pada penyumbatan di pembuluh arteri besar, dokter radiologi intervensi dapat melakukan trombektomi mekanis. Dalam prosedur ini, kateter kecil dimasukkan melalui pangkal paha untuk menarik gumpalan darah dari otak.
Sementara itu, perdarahan masif akibat stroke hemoragik dapat memerlukan penanganan ahli bedah saraf. Salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah kraniotomi, yakni operasi dengan membuka tengkorak untuk mengurangi tekanan di dalam kepala. Tekanan yang membesar perlu ditangani agar tidak membahayakan batang otak. Keputusan tindakan dan pelaksanaannya memerlukan kerja lintas disiplin yang cepat, berdasarkan kondisi serta hasil pemeriksaan pasien.
3. Perencanaan Terapi dan Rehabilitasi
Setelah kondisi akut tertangani dan tanda vital stabil di Neuro-ICU, perhatian tim beralih pada pemulihan. Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi memimpin penyusunan program terapi, termasuk latihan motorik awal yang dapat dilakukan saat pasien masih di ranjang. Terapis wicara menilai kemampuan menelan dan berkomunikasi. Pemeriksaan menelan penting untuk membantu mencegah makanan atau cairan masuk ke saluran pernapasan.
Tim farmasi klinis dan spesialis gizi juga membantu merancang terapi obat dan asupan nutrisi yang sesuai. Pendampingan harian diarahkan untuk mendukung pemulihan sekaligus mengurangi risiko masalah akibat pasien terlalu lama tidak bergerak, seperti kekakuan otot dan luka baring. Program rehabilitasi disesuaikan dengan kondisi pasien. Dengan begitu, latihan dapat menjadi bagian dari perawatan sejak fase awal, bukan hanya setelah pasien pulang.
4. Pemantauan Berkala Cegah Komplikasi
Setelah perawatan akut, tim perlu memantau faktor yang dapat berhubungan dengan risiko stroke berulang. Dokter spesialis penyakit dalam dan kardiologi dapat menelusuri kondisi penyerta, seperti fibrilasi atrium, hipertensi, atau diabetes. Pengelolaan kadar lemak darah dan irama jantung juga dapat menjadi bagian dari pemantauan. Dokter menentukan terapi obat, termasuk antiplatelet atau antikoagulan, sesuai kebutuhan pasien.
Perawatan pasca stroke tidak hanya mencakup kondisi fisik. Psikolog klinis atau psikiater dapat membantu memantau perubahan emosi dan risiko depresi. Pemeriksaan rawat jalan secara berkala memungkinkan tim meninjau perkembangan pasien dan menyesuaikan perawatan selama beberapa bulan setelah pasien meninggalkan rumah sakit. Dukungan ini juga dapat membantu pasien beradaptasi kembali dengan aktivitas sehari-hari.
Lihat Promo Paket Kesehatan
Penanganan stroke akut melibatkan rangkaian pemeriksaan, tindakan, rehabilitasi, dan pemantauan. Koordinasi tim multidisiplin membantu setiap tahap berjalan sesuai kebutuhan pasien, sementara kecepatan penanganan tetap menjadi perhatian sejak gejala muncul. Jika Anda mendampingi seseorang yang mengalami gejala stroke, segera cari pertolongan medis dan jangan menunda pemeriksaan.
Untuk mengetahui informasi layanan dan promo paket kesehatan terkini di RS Bunda, Anda dapat mengunjungi situs bunda.co.id atau menggunakan aplikasi OneBunda. Jika membutuhkan panduan pendaftaran, hubungi Call Center RS Bunda di 1-500-799. Dalam situasi darurat, Anda juga dapat langsung menuju UGD 24 Jam RS Bunda Group.
Tinggalkan Balasan